Kalau kamu sudah mulai main manajemen bandwidth di MikroTik, biasanya akan ketemu dua istilah ini: Simple Queue dan Queue Tree. Keduanya sama-sama dipakai untuk mengatur bandwidth, tapi cara kerja dan fungsinya beda.
Artikel ini membahas perbedaan Simple Queue dan Queue Tree dengan bahasa sederhana, plus contoh kapan pakai yang mana.
Sekilas: Apa Itu Simple Queue dan Queue Tree?
Simple Queue (Queue Sederhana)
Simple Queue adalah cara paling mudah untuk:
- Membatasi kecepatan per IP atau per subnet.
- Mengatur batas maksimum download dan upload per client atau per jaringan.
Biasanya dipakai untuk:
- Kantor kecil, kos, atau cafe.
- Limit per user: misalnya setiap karyawan maksimal 5 Mbps.
- Kasus cepat: “user ini jangan sampai makan lebih dari sekian Mbps”.
Konfigurasi Simple Queue bisa dilakukan langsung dari menu Queues → Simple Queues tanpa perlu mangle.
Queue Tree
Queue Tree adalah cara yang lebih canggih dan fleksibel untuk mengelola bandwidth. Di sini, kamu bisa:
- Mengatur bandwidth berdasarkan jenis traffic (misalnya game, VoIP, streaming, browsing).
- Membuat struktur parent–child yang kompleks.
- Mengatur prioritas global di satu link internet (misalnya prioritas traffic VoIP di atas download besar-besaran).
Supaya Queue Tree bisa bekerja, biasanya kamu perlu:
- Membuat mangle di firewall untuk memberi tanda pada paket (mark connection/packet).
- Menentukan queue type (misalnya PCQ) untuk pembagian lebih adil.
Perbedaan Cara Kerja: IP vs Jenis Trafik
Cara paling gampang memahami bedanya:
- Simple Queue berfokus pada siapa (IP / subnet).
- Queue Tree berfokus pada trafik apa (jenis layanan, port, protokol, atau mark tertentu).
Contoh:
Simple Queue:
- IP
192.168.88.10 maksimal 5 Mbps download dan 2 Mbps upload.
- Subnet
192.168.88.0/24 maksimal 50 Mbps total.
Queue Tree:
- Di jalur internet 50 Mbps:
- 10 Mbps diprioritaskan untuk VoIP.
- 20 Mbps untuk browsing & aplikasi kantor.
- Sisanya untuk download/streaming biasa.
Simple Queue bisa juga bermain di prioritas, tapi levelnya biasanya per IP/subnet, bukan sedetail Queue Tree yang bisa membedakan jenis traffic secara lebih granular.
Perbedaan Kompleksitas Konfigurasi
Simple Queue
- Konfigurasi: relatif mudah.
- Tidak perlu mangle.
- Cukup tentukan:
- Name
- Target (IP / subnet)
- Max Limit / Limit At
- (Opsional) Priority dan Parent
Cocok untuk:
- Belajar awal MikroTik.
- Admin jaringan yang butuh hasil cepat tanpa pusing teori QoS yang dalam.
Queue Tree
- Konfigurasi: lebih rumit.
- Perlu:
- Mangle untuk mark traffic.
- Definisi parent–child yang jelas.
- Paham jalur traffic (upload/download, interface mana).
- Lebih dekat ke konsep QoS “serius”: prioritizing, shaping, HTB, dsb.
Cocok untuk:
- Jaringan dengan banyak user dan berbagai tipe layanan.
- RT/RW Net, kantor besar, kampus, atau ISP rumahan.
- Kasus di mana bukan cuma “limit per user”, tapi “jenis traffic tertentu harus lebih prioritas”.
Tabel Perbandingan Simple Queue vs Queue Tree
| Aspek |
Simple Queue |
Queue Tree |
| Fokus utama |
IP / subnet (siapa yang di-limit) |
Jenis traffic / mark (trafik apa yang diatur) |
| Kompleksitas |
Rendah (mudah dipelajari) |
Tinggi (butuh mangle dan konsep QoS) |
| Kebutuhan mangle |
Tidak wajib |
Hampir selalu butuh |
| Skala jaringan |
Kecil–menengah |
Menengah–besar |
| Use case utama |
Limit per user / per jaringan |
Prioritas global, pembagian per jenis layanan |
| Arah traffic |
Bisa dua arah (upload & download) di satu rule |
Umumnya 1 arah per queue (download atau upload per parent) |
| Monitoring |
Lebih mudah, karena per IP terlihat jelas |
Lebih kompleks, perlu pahami struktur parent–child |
| Konfigurasi cepat |
Sangat cocok |
Kurang cocok, lebih ke perencanaan matang |
Kapan Sebaiknya Pakai Simple Queue?
Gunakan Simple Queue kalau:
- Kamu mengelola jaringan kecil hingga menengah (misalnya ≤ 30–50 user).
- Tujuan utama: batas per user atau per kelompok IP.
- Pola penggunaan jaringan masih sederhana:
- Satu link internet utama.
- Tidak terlalu peduli bedanya traffic game, streaming, dan lain-lain, yang penting semua kebagian wajar.
- Kamu butuh solusi yang:
- Cepat dibuat.
- Mudah dipahami admin lain.
Contoh skenario:
- Kantor kecil: setiap karyawan maksimal 5 Mbps, server akunting diprioritaskan dan diberi limit lebih besar.
- Kos/kontrakan: setiap kamar maksimal 3 Mbps, supaya satu kamar tidak menghabiskan semua bandwidth.
- Cafe: semua pengguna WiFi dibatasi per perangkat, cukup dengan Simple Queue + hotspot.
Kapan Sebaiknya Pakai Queue Tree?
Gunakan Queue Tree kalau:
- Jaringan sudah lebih kompleks:
- Banyak user.
- Banyak jenis layanan (game, VoIP, streaming, download, aplikasi internal).
- Kamu perlu membagi bandwidth berdasarkan kategori traffic, bukan cuma per IP.
- Kamu ingin mengatur prioritas global di satu link internet (misalnya link 50 Mbps ke ISP).
Contoh skenario:
- RT/RW Net:
- Paket 3 Mbps, 5 Mbps, 10 Mbps.
- Ingin memisahkan prioritas antara browsing, game, dan download besar.
- Kantor besar:
- Trafik ke aplikasi internal (ERP, CRM) harus lebih prioritas dari YouTube.
- VoIP / meeting online tidak boleh patah-patah walaupun ada user lain download.
Queue Tree juga umum dipakai ketika:
- Ada lebih dari satu koneksi ISP.
- Butuh load balancing dan pembagian bandwidth yang rapi per link.
Bolehkah Simple Queue dan Queue Tree Dipakai Bersamaan?
Secara teknis, satu paket data bisa melewati Simple Queue dan Queue Tree di router yang sama. Namun:
- Untuk pemula, sebaiknya fokus satu metode dulu, supaya lebih mudah debug.
- Jika keduanya dipakai sembarangan, bisa muncul kebingungan:
- Traffic seolah-olah “tidak mengikuti” limit tertentu.
- Prioritas bentrok.
Praktik aman:
- Untuk jaringan kecil: pakai Simple Queue saja dulu.
- Kalau sudah butuh QoS lanjutan:
- Rancang ulang dan pindah ke Queue Tree + mangle, atau
- Kombinasikan dengan sangat terencana (misalnya Simple Queue untuk per user, Queue Tree untuk layer global tertentu).
Contoh Keputusan: Simple Queue atau Queue Tree?
Bayangkan beberapa kasus, dan keputusan yang masuk akal:
Kantor 15 karyawan + 1 server
- Kebutuhan: semua karyawan kebagian wajar, server akunting lebih prioritas.
- Pilihan: Simple Queue parent–child sudah sangat cukup.
Kos 20 kamar, 1 WiFi per lantai
- Kebutuhan: tiap kamar tidak boleh makan semua bandwidth, tapi kalau sepi, boleh lebih cepat.
- Pilihan: Simple Queue (atau Simple Queue + PCQ) untuk subnet per lantai.
RT/RW Net 80 pelanggan dengan paket berbeda
- Kebutuhan: pemisahan paket 3/5/10 Mbps, prioritas ke trafik tertentu, menjaga kenyamanan semua user.
- Pilihan: Queue Tree + mangle + PCQ lebih ideal.
Kantor besar dengan layanan VoIP, VPN antar kantor, dan aplikasi ERP
- Kebutuhan: VoIP dan ERP tidak boleh terganggu oleh download biasa.
- Pilihan: Queue Tree dengan prioritas per jenis traffic.
Kesimpulan: Pilih Sesuai Kebutuhan, Bukan Sekadar “Lebih Canggih”
Tidak ada yang mutlak “lebih bagus” antara Simple Queue dan Queue Tree. Yang ada adalah:
Kalau kamu baru mulai, sangat disarankan kuasai Simple Queue dulu (seperti di Hub 1), baru naik ke Queue Tree ketika kebutuhan jaringan memang menuntut.