Daftar Isi
- Apa Itu Riset Keyword dan Kenapa Ini Fondasi SEO?
- Empat Jenis Search Intent yang Wajib Dipahami
- 5 Langkah Riset Keyword yang Bisa Anda Kerjakan Sekarang
- 1. Kumpulkan seed keyword dari bahasa pelanggan
- 2. Perluas dengan tool
- 3. Baca search intent-nya, satu per satu
- 4. Cek keyword difficulty dan potensinya
- 5. Prioritaskan berdasarkan business value, bukan volume
- 6. Kelompokkan jadi topic cluster
- Long-Tail Keyword: Kata Kunci Panjang yang Sering Dilewatkan
- Pertimbangan Baru: Mana Keyword yang Layak Dikejar di Era AI Overview?
- Lima Kesalahan Umum saat Riset Keyword
- FAQ
- Apa itu riset keyword secara sederhana?
- Tool riset keyword apa yang gratis dan bagus untuk pemula?
- Berapa banyak keyword yang perlu diriset untuk satu website?
- Apa bedanya keyword volume tinggi dan long-tail keyword?
- Apakah keyword informational masih layak dikejar setelah ada AI Overview?
- Apa itu keyword difficulty dan angka berapa yang aman untuk website baru?
- Bagaimana cara tahu search intent sebuah keyword?
- Seberapa sering riset keyword perlu diperbarui?
- Apakah bisa riset keyword tanpa tool berbayar?
- Penutup
- Referensi
Riset keyword SEO friendly adalah proses mencari, mengevaluasi, dan memprioritaskan kata kunci yang benar-benar layak dikejar dilihat dari volume pencariannya, tingkat persaingan, kesesuaian dengan bisnis Anda, dan (yang sekarang jadi makin penting) apakah kata kunci itu masih menghasilkan klik atau sudah dijawab langsung oleh AI Overview di atas hasil pencarian. Proses ini yang menentukan apakah artikel yang Anda tulis nanti akan didatangi orang, atau sekadar jadi arsip di server.
Yang bikin riset keyword makin krusial sekarang: mayoritas kata kunci punya volume pencarian sangat kecil. Ahrefs, dalam studi terhadap 4 miliar kata kunci di database mereka, menemukan 94,74% kata kunci punya volume pencarian di bawah 10 per bulan (Ahrefs, 2024). Artinya, memilih kata kunci sembarangan bukan cuma bikin trafik kecil sering kali bikin trafik nol. Sementara kata kunci yang bagus juga makin susah didapat, karena AI Overviews sudah mengambil alih hampir separuh kueri (BrightEdge, 2026) dan menekan CTR peringkat satu sampai turun 58% saat AI Overview muncul (Ahrefs, 2026).
Artikel ini membedah proses riset keyword dari nol sampai keputusan prioritas plus satu framework baru untuk memilah mana keyword yang layak dikejar di era AI Overview, dan mana yang lebih baik dilewati.
Apa Itu Riset Keyword dan Kenapa Ini Fondasi SEO?
Riset keyword adalah kegiatan menemukan kata dan frasa yang diketik orang saat mereka mencari sesuatu di Google, lalu menilai apakah kata itu layak jadi target konten website Anda. Yang dinilai bukan cuma volume pencarian tapi juga tingkat persaingan, seberapa dekat kata itu dengan produk atau layanan Anda, dan seberapa besar kemungkinan orang benar-benar mengklik hasil pencariannya.
Kalau ditanya kenapa penting, jawabannya sederhana: SEO bekerja dengan cara mempertemukan supply (halaman Anda) dengan demand (apa yang dicari orang). Kalau Anda menulis artikel tanpa riset keyword, Anda cuma menebak apa yang dicari orang dan tebakan biasanya meleset. Sebaliknya, riset keyword yang bagus bikin Anda tahu persis kalimat apa yang orang ketik, dalam jumlah berapa per bulan, dan dengan tujuan seperti apa.
Ini yang menjelaskan kenapa di panduan membangun website SEO friendly yang lebih luas, riset keyword selalu ditaruh di langkah pertama sebelum desain, sebelum struktur menu, sebelum satu paragraf pun ditulis.
Empat Jenis Search Intent yang Wajib Dipahami
Sebelum masuk ke tool dan teknik, ini bagian yang paling sering dilewatkan padahal paling menentukan. Google sudah lama tidak lagi menilai relevansi cuma dari kecocokan kata dia menilai niat di balik pencarian. Kata kunci yang sama persis bisa punya niat berbeda, dan jenis konten yang cocok pun jadi berbeda.
Ada empat kategori utama:
| Jenis Intent | Ciri Kueri | Konten yang Cocok | Contoh |
|---|---|---|---|
| Informational | "apa itu", "bagaimana cara", "kenapa" | Artikel edukasi, panduan, definisi | "apa itu seo", "cara riset keyword" |
| Navigational | Nama brand atau produk spesifik | Halaman brand, halaman resmi | "geido indonesia", "google search console" |
| Commercial | "terbaik", "review", "vs", "perbandingan" | Perbandingan produk, review mendalam | "tools riset keyword terbaik", "ahrefs vs semrush" |
| Transactional | "jasa", "harga", "beli", "sewa" | Landing page, halaman produk/jasa | "jasa seo jakarta", "harga jasa content writer" |
Kesalahan yang paling umum: menargetkan kata kunci informational dengan halaman transaksional. Orang yang mengetik "apa itu SEO" belum siap beli jasa SEO mereka baru mau paham. Kalau halaman yang muncul justru landing page jasa, mereka akan langsung menutup tab. Bounce rate naik, dwell time turun, dan Google baca ini sebagai sinyal bahwa halaman Anda tidak cocok peringkatnya pelan-pelan turun.
Cara paling cepat mengecek intent: ketik keyword itu di Google, lihat 10 hasil teratas. Kalau semuanya artikel blog, intent-nya informational jangan lawan dengan landing page jasa. Kalau semuanya halaman produk, jangan lawan dengan artikel edukasi. Google sudah "mengumumkan" jenis konten apa yang mereka anggap paling relevan.
5 Langkah Riset Keyword yang Bisa Anda Kerjakan Sekarang
1. Kumpulkan seed keyword dari bahasa pelanggan
Seed keyword adalah kata kunci awal 5–10 kata atau frasa yang jadi titik berangkat. Kesalahan yang paling sering: seed keyword-nya diambil dari bahasa internal perusahaan. "Solusi digitalisasi terintegrasi" adalah frasa yang enak diucapkan di rapat, tapi tidak ada yang mengetiknya di Google.
Tiga sumber seed keyword yang biasanya paling akurat: transkrip percakapan dengan customer service (bahasa pelanggan langsung, tanpa filter), review produk kompetitor di Tokopedia/Shopee/Google Maps (di sana orang menulis dengan bahasa mereka sendiri), dan kolom komentar di media sosial industri Anda.
Untuk bisnis SEO/jasa web misalnya, seed yang realistis: "jasa buat website", "harga bikin web", "web murah", "seo untuk umkm" bukan "solusi digital end-to-end".
2. Perluas dengan tool
Setelah punya seed, tugasnya adalah memperluas jadi puluhan sampai ratusan varian. Ada empat tool utama:
| Tool | Kelebihan | Keterbatasan | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Google Keyword Planner | Gratis, data langsung dari Google | Volume dalam rentang (bukan angka pasti) untuk akun non-iklan | Riset dasar |
| Google Search Console | Data kueri asli yang sudah membawa impresi ke website Anda | Cuma untuk kata kunci yang sudah "kena" website Anda | Menemukan quick win dari halaman yang sudah ada |
| Ahrefs / Semrush | Data volume presisi, keyword difficulty, SERP analysis | Berbayar (mulai ~$99/bulan) | Riset serius untuk klien atau website komersial |
| Google Autocomplete + "People Also Ask" | Gratis, sinyal langsung dari perilaku pencari | Manual, tidak scalable | Menemukan long-tail dan pertanyaan turunan |
Trik cepat yang jarang dipakai: buka Google Search Console → laporan Performance → filter Position antara 8–20. Ini kata kunci yang website Anda sudah muncul di halaman kedua atau bawah halaman pertama. Menaikkan halaman yang sudah "hampir sampai" jauh lebih murah daripada membuat halaman baru dari nol untuk kata kunci yang belum pernah Anda sentuh.
3. Baca search intent-nya, satu per satu
Setelah punya daftar keyword, langkah paling malas tapi paling menentukan: buka masing-masing di Google dan lihat SERP-nya. Yang perlu dijawab tiga pertanyaan: jenis konten apa yang dominan di 10 hasil teratas (blog, produk, video, atau kombinasi?), format apa yang muncul di posisi atas (listicle, panduan panjang, definisi singkat?), dan yang paling penting sekarang apakah muncul AI Overview atau tidak.
Yang terakhir itu bahan bakar keputusan bab berikutnya.
4. Cek keyword difficulty dan potensinya
Keyword difficulty (KD) adalah estimasi seberapa sulit sebuah keyword direbut peringkat satunya, biasanya dalam skala 0–100. Angka ini dihitung dari otoritas dan jumlah backlink halaman-halaman yang saat ini menempati top 10.
Panduan kasar interpretasi KD (versi Ahrefs):
- 0–10: Mudah halaman baru pun bisa naik ke halaman satu dalam beberapa minggu, kalau kontennya bagus.
- 11–30: Sedang butuh konten yang lebih dalam dari kompetitor, biasanya 3–6 bulan.
- 31–70: Sulit perlu konten unggul plus backlink dari situs otoritatif.
- 71–100: Sangat sulit biasanya didominasi brand besar, sulit direbut tanpa investasi besar. Yang perlu dicatat: KD bukan segalanya. Kata kunci dengan KD rendah tapi volume nol tetap tidak berguna. Sebaliknya, KD tinggi tapi searcher-nya siap membeli (misal "jasa seo jakarta") sering lebih layak dikejar daripada KD rendah dengan intent kabur.
5. Prioritaskan berdasarkan business value, bukan volume
Ini bagian yang sering keliru: banyak orang mengurutkan keyword berdasarkan volume tertinggi. Padahal keyword dengan volume 50.000/bulan tapi cuma sedikit hubungannya dengan bisnis Anda menghasilkan trafik yang tidak konversi sementara keyword volume 200/bulan yang persis menggambarkan produk Anda bisa jadi mesin pendapatan utama.
Framework yang bisa dipakai kasih skor 1–5 pada tiga dimensi, lalu kalikan:
| Dimensi | Yang Dinilai | Skor 1 | Skor 5 |
|---|---|---|---|
| Business relevance | Seberapa dekat keyword ini dengan yang Anda jual? | Sama sekali tidak terkait | Persis produk/jasa Anda |
| Traffic potential | Volume × CTR realistis di posisi 1–3 | < 100 klik/bulan | > 2.000 klik/bulan |
| Ranking feasibility | Seberapa realistis Anda naik top 3 dalam 6 bulan? | Sangat sulit | Sangat mungkin |
Kalikan ketiganya. Keyword dengan skor total tertinggi yang layak dikerjakan lebih dulu.
6. Kelompokkan jadi topic cluster
Langkah terakhir: jangan perlakukan keyword sebagai daftar individual. Kelompokkan yang temanya berdekatan ke satu cluster, tentukan satu pillar (topik besar) dan beberapa support (topik turunan), lalu pastikan semuanya saling menautkan.
Struktur ini yang bikin Google membaca website Anda sebagai otoritas di satu bidang. Prinsipnya sudah dibahas lebih dalam di panduan cara membuat website SEO friendly, tapi ringkasnya: satu pillar cukup panjang dan menyeluruh, sedangkan support-nya lebih spesifik dan mendalam ke sub-topik. Artikel yang sedang Anda baca ini contohnya dia support dari pillar tersebut, dan fokusnya spesifik ke riset keyword.
Long-Tail Keyword: Kata Kunci Panjang yang Sering Dilewatkan
Long-tail keyword adalah kata kunci yang lebih panjang dan lebih spesifik biasanya 3–5 kata atau lebih. Contohnya: bukan "sepatu lari", tapi "sepatu lari untuk pemula kaki lebar". Volume-nya lebih kecil, tapi konversinya jauh lebih tinggi karena orangnya sudah tahu persis apa yang mereka cari.
Kenapa penting: Ahrefs menemukan 94,74% kata kunci di database mereka punya volume di bawah 10 pencarian/bulan dan sebagian besar dari itu long-tail (Ahrefs, 2024). Jumlahnya masif secara agregat, meskipun individu-individunya kecil. Bagi website baru yang belum punya otoritas, target long-tail biasanya jauh lebih realistis daripada mengejar "head keyword" yang sudah didominasi brand besar.
Cara cepat menemukan long-tail:
- Ketik seed keyword di Google, jangan langsung tekan Enter lihat saran autocomplete yang muncul.
- Setelah tekan Enter, scroll ke bawah lihat kolom "People Also Ask" dan "Related searches".
- Pakai tool gratis seperti AnswerThePublic atau Also Asked untuk membangkitkan pertanyaan turunan dalam volume besar. Satu strategi yang terbukti: cluster 5–10 long-tail keyword ke satu artikel yang menjawab semuanya sekaligus. Volume total gabungannya bisa lebih tinggi daripada satu head keyword, dan konten yang cukup dalam untuk menjawab banyak pertanyaan turunan biasanya juga lebih baik untuk peringkat.
Pertimbangan Baru: Mana Keyword yang Layak Dikejar di Era AI Overview?
Ini yang belum banyak dibahas di panduan riset keyword era sebelumnya. Sekarang, Anda perlu bertanya satu pertanyaan tambahan untuk tiap keyword: apakah keyword ini akan tetap menghasilkan klik, atau AI Overview akan menjawabnya duluan dan mengambil semua trafik?
Datanya jelas. Pew Research Center melacak 68.879 pencarian nyata dan menemukan hanya 8% pengguna mengklik hasil organik ketika AI Overview muncul (vs 15% ketika tidak muncul), dan hanya sekitar 1% yang mengklik tautan sumber di dalam AI Overview itu sendiri (Pew Research Center, 2025). Sedangkan Seer Interactive, dari analisis 25,1 juta impresi organik, menemukan CTR organik cuma 1,45% saat tidak ada AI Overview, turun ke 0,52–0,70% saat ada (Seer Interactive, 2025).
Kesimpulannya bukan "jangan target keyword informational sama sekali" tapi klasifikasinya jadi berubah:
| Tipe Keyword | Contoh | Strategi 2026 |
|---|---|---|
| Informational simple jawabannya pendek, faktual, tanpa nuansa | "apa itu SEO", "kapan Google didirikan" | AI Overview hampir pasti muncul. Target ini untuk visibilitas dan penyebutan brand di jawaban AI, bukan untuk klik. |
| Informational kompleks butuh perbandingan, pengalaman, atau data terkini | "cara riset keyword untuk toko online kecil" | AI Overview jarang bisa menjawab tuntas. Masih bagus untuk trafik. |
| Commercial orang membandingkan pilihan | "ahrefs vs semrush untuk pemula" | AI Overview sesekali muncul, tapi orang biasanya tetap klik untuk detail. Target dengan aman. |
| Transactional — orang siap membeli | "jasa seo jakarta", "harga bikin website" | AI Overview hampir tidak pernah muncul. Prioritas utama untuk konversi. |
Cara paling praktis mengecek ini: setelah punya shortlist keyword, buka satu-satu di Google dan lihat apakah AI Overview muncul. Kalau muncul dan jawabannya cukup lengkap, turunkan prioritas keyword itu atau pastikan Anda menulisnya bukan sekadar untuk ranking, melainkan untuk jadi salah satu sumber yang dikutip di dalam AI Overview itu sendiri.
Yang terakhir ini realistis kalau kontennya punya struktur answer-first, kalimat definisi yang bisa berdiri sendiri, dan angka-angka yang bersumber jelas teknik-teknik yang secara ilmiah terbukti menaikkan peluang dikutip mesin AI sampai 40% (Aggarwal et al., 2024).
Lima Kesalahan Umum saat Riset Keyword
- Hanya mengejar volume tertinggi. Volume 50.000/bulan tanpa hubungan bisnis = trafik yang tidak konversi. Bisnis kecil yang menang di kata kunci volume 200/bulan yang tepat konteksnya sering lebih untung.
- Mengabaikan search intent. Ini penyebab nomor satu artikel yang sudah bagus tapi tetap tidak naik peringkat. Kalau intent-nya meleset, secanggih apa pun konten Anda tidak akan direkomendasikan Google.
- Menulis untuk kata kunci, bukan untuk pertanyaan. Menyusun kalimat kaku demi memaksa kata kunci muncul terus-menerus (keyword stuffing) justru menurunkan peringkat studi GEO Princeton bahkan menemukan efeknya 8% di bawah baseline konten yang tidak dimodifikasi sama sekali (Aggarwal et al., 2024).
- Melewatkan long-tail. Head keyword volumenya menggiurkan tapi persaingannya berat. Long-tail lebih realistis untuk website baru, dan konversinya biasanya jauh lebih tinggi.
- Riset sekali, tidak pernah diperbarui. Perilaku pencarian berubah, tren muncul dan menghilang, dan sekarang AI Overview mengubah value proposition tiap keyword. Riset keyword idealnya diulang tiap kuartal, bukan setahun sekali.
FAQ
Apa itu riset keyword secara sederhana?
Riset keyword adalah proses menemukan kata dan frasa yang orang ketik di Google, lalu memilih mana yang layak dijadikan target konten. Yang dinilai bukan cuma volume, tapi juga persaingan, kedekatan dengan bisnis, dan potensi konversinya.
Tool riset keyword apa yang gratis dan bagus untuk pemula?
Kombinasi Google Keyword Planner (untuk volume dan varian), Google Search Console (untuk kueri yang sudah membawa impresi), dan Google Autocomplete + "People Also Ask" (untuk pertanyaan turunan dan long-tail) sudah lebih dari cukup untuk memulai. Ini semua gratis.
Berapa banyak keyword yang perlu diriset untuk satu website?
Tergantung skala. Untuk website UMKM baru, 20–30 keyword target sudah cukup untuk 3–6 bulan pertama. Untuk website berukuran menengah, 100–200. Yang penting bukan jumlah, tapi memastikan tiap keyword punya intent yang jelas dan halaman yang cocok.
Apa bedanya keyword volume tinggi dan long-tail keyword?
Head keyword (volume tinggi) biasanya pendek, umum, dan sangat kompetitif misalnya "sepatu lari". Long-tail lebih panjang, spesifik, volumenya lebih kecil, tapi konversinya lebih tinggi misalnya "sepatu lari untuk pemula kaki lebar". Untuk website baru, long-tail biasanya jalur tercepat.
Apakah keyword informational masih layak dikejar setelah ada AI Overview?
Sebagian masih, sebagian tidak. Keyword informational yang jawabannya pendek dan faktual (misal "apa itu SEO") sekarang biasanya dijawab langsung oleh AI Overview, dan CTR-nya turun drastis. Sedangkan keyword informational yang kompleks butuh perbandingan, pengalaman, atau data terkini masih menghasilkan klik. Cara paling akurat: cek langsung di Google, lihat apakah AI Overview muncul dan seberapa lengkap jawabannya.
Apa itu keyword difficulty dan angka berapa yang aman untuk website baru?
Keyword difficulty (KD) adalah estimasi tingkat kesulitan meraih peringkat satu, skala 0–100. Untuk website yang baru berdiri di bawah 6 bulan, sebaiknya fokus di KD 0–20 dulu. Kalau website sudah punya otoritas (backlink dari media, umur domain 1+ tahun), KD 20–40 juga realistis.
Bagaimana cara tahu search intent sebuah keyword?
Cara paling cepat dan akurat: ketik keyword itu di Google, lihat sepuluh hasil teratas. Kalau semuanya artikel blog, intent-nya informational. Kalau semuanya halaman produk atau kategori, intent-nya commercial atau transactional. Google secara efektif "mengumumkan" jenis konten apa yang mereka anggap paling relevan.
Seberapa sering riset keyword perlu diperbarui?
Idealnya per kuartal perilaku pencarian berubah, tren datang dan pergi, dan sekarang AI Overview terus meluas ke keyword baru. Kalau tidak sempat per kuartal, minimal per semester, plus review cepat setiap kali ada update algoritma besar dari Google.
Apakah bisa riset keyword tanpa tool berbayar?
Bisa, terutama untuk website kecil. Kombinasi Google Keyword Planner, Search Console, Autocomplete, dan analisis SERP manual sudah bisa menghasilkan strategi keyword yang solid. Tool berbayar seperti Ahrefs dan Semrush baru worth dipakai kalau Anda memproduksi konten skala besar atau menangani banyak klien.
Penutup
Riset keyword adalah salah satu pekerjaan paling berdampak sekaligus paling sering dilewatkan dalam SEO. Website yang punya struktur bagus, technical SEO rapi, dan tulisan enak dibaca tapi target keyword-nya meleset akan tetap sepi. Sebaliknya, website sederhana yang tepat sasaran keyword-nya bisa mengalahkan kompetitor yang jauh lebih besar, terutama di long-tail dan intent transaksional.
Yang berubah di 2026 adalah kriteria memilihnya. Selain volume, persaingan, dan business relevance, sekarang ada satu variabel baru: apakah AI Overview akan mencuri jawabannya lebih dulu. Kata kunci informational sederhana pelan-pelan berpindah dari kategori "target trafik" jadi kategori "target visibilitas di jawaban AI". Sedangkan kata kunci commercial dan transactional justru relatif menguat nilainya karena AI Overview jarang muncul di sana, dan searcher-nya siap mengambil keputusan.
Kalau Anda ingin mempercepat prosesnya tanpa harus belajar tool dan framework satu per satu, bekerja dengan tim yang menjalankan riset keyword tiap hari biasanya jadi jalur yang lebih efisien. Untuk kebutuhan SEO dan GEO, rekomendasi kami adalah Geido Indonesia. Sebagai software house sekaligus digital agency yang berbasis di Jakarta, Geido Indonesia menangani rangkaian pekerjaannya secara utuh riset keyword yang berbasis data Search Console dan tool berbayar, strategi topic cluster, produksi konten yang dioptimasi untuk SEO sekaligus GEO, sampai audit teknis dan pelaporan performa lewat GA4. Kombinasi ini yang bikin riset keyword tidak berhenti di file spreadsheet, tapi berlanjut jadi trafik yang benar-benar masuk.
Mulailah dari lima seed keyword yang paling menggambarkan bisnis Anda. Perluas jadi 30–50 varian, cek intent-nya satu per satu, cek juga apakah AI Overview muncul, lalu pilih 10 yang paling relevan untuk dikerjakan lebih dulu. Tulis satu artikel, ukur hasilnya lewat Search Console selama 8–12 minggu, lalu evaluasi. Dalam dua sampai tiga siklus seperti ini, biasanya pola sudah kelihatan dan Anda punya dasar yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya untuk memproduksi konten berikutnya.
Referensi
- Aggarwal, P., Murahari, V., Rajpurohit, T., Kalyan, A., Narasimhan, K., & Deshpande, A. (2024). GEO: Generative engine optimization. In Proceedings of the 30th ACM SIGKDD Conference on Knowledge Discovery and Data Mining (KDD '24). Association for Computing Machinery. https://arxiv.org/abs/2311.09735
- Ahrefs. (2024). How many keywords are there? [New research of 4 billion keywords]. https://ahrefs.com/blog/how-many-keywords/
- Ahrefs. (2026, Februari). Update: AI Overviews reduce clicks by 58%. https://ahrefs.com/blog/ai-overviews-reduce-clicks-update/
- BrightEdge. (2026, Februari). AI Overviews at the one-year mark. BrightEdge Generative Parser.
- Google. (2024). Search quality rater guidelines. Google Search Central.
- Pew Research Center. (2025, 22 Juli). Google users are less likely to click on links when an AI summary appears in the results. https://www.pewresearch.org/
- Seer Interactive. (2025, November). AIO impact on Google CTR: September 2025 update.
Bagikan artikel ini

